Mahasiswa Fakultas Tarbiyah IAI Nasional Laa Roiba Bangun Kesadaran Gender Melalui FGD Bedah Film Tuhan Izinkan Aku Berdosa
Admin Website | 23 Juni 2025 | Dibaca 42 kali |

Mahasiswa Fakultas Tarbiyah IAI Nasional Laa Roiba Bangun Kesadaran Gender Melalui FGD Bedah Film Tuhan Izinkan Aku Berdosa

Bogor, 23 Juni 2025 – Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Nasional (IAI Nasional) Laa Roiba Bogor menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) Kesadaran Gender melalui bedah film Tuhan Izinkan Aku Berdosa sebagai bagian dari upaya penguatan literasi gender dan pengembangan karakter mahasiswa.

Kegiatan yang berlangsung di Kafe Abu Nawas, Kabupaten Bogor, ini diikuti oleh mahasiswa Fakultas Tarbiyah dan menjadi ruang dialog untuk membangun pemahaman kritis mengenai isu kesetaraan gender, representasi perempuan dalam media, serta relasi antara agama, budaya, dan keadilan sosial.



Film karya sutradara Hanung Bramantyo yang diadaptasi dari novel karya Muhidin M. Dahlan tersebut dipilih karena mengangkat berbagai persoalan yang masih relevan dalam kehidupan masyarakat, seperti kekerasan berbasis gender, ketimpangan relasi kuasa, eksploitasi perempuan, serta penyalahgunaan otoritas keagamaan.

Melalui pendekatan media sebagai sarana pembelajaran, peserta diajak melihat bagaimana sebuah film tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga mampu menjadi medium refleksi sosial yang mendorong lahirnya kesadaran kritis.

Dalam pemaparannya, Siti Lutfi Latifah, M.Sos., menekankan bahwa film tersebut memperlihatkan berbagai bentuk kekerasan yang dialami perempuan, baik di lingkungan pendidikan, masyarakat, maupun dalam relasi yang menggunakan simbol-simbol agama sebagai alat legitimasi kekuasaan.

"Agama pada hakikatnya mengajarkan keadilan. Yang perlu kita kritisi bukan agamanya, melainkan bagaimana tafsir agama terkadang disalahgunakan untuk membenarkan ketimpangan dan membungkam suara perempuan. Sebagai calon pendidik, mahasiswa perlu memiliki kemampuan membaca persoalan ini secara kritis dan proporsional," jelasnya.

Diskusi semakin kaya dengan kehadiran Sri Hastusi Julianti, praktisi yang berpengalaman dalam pendampingan korban kekerasan berbasis gender. Ia mengungkapkan bahwa berbagai bentuk kekerasan yang digambarkan dalam film memiliki kemiripan dengan kasus-kasus yang masih banyak ditemukan di lapangan.

"Korban kekerasan sering menghadapi tantangan yang tidak ringan, bukan hanya karena mengalami kekerasan itu sendiri, tetapi juga karena masih kuatnya budaya menyalahkan korban. Oleh karena itu, literasi gender dan literasi agama yang berpihak pada nilai-nilai kemanusiaan perlu terus diperkuat," ujarnya.

Selama sesi FGD, mahasiswa terlibat aktif dalam diskusi dengan menyampaikan pandangan dan refleksi mengenai berbagai isu yang muncul dalam film. Berbagai perspektif dibahas, mulai dari konstruksi sosial terhadap perempuan, kekerasan simbolik, budaya patriarki, hingga pentingnya menciptakan ruang aman dan lingkungan pendidikan yang inklusif.

Melalui kegiatan ini, Fakultas Tarbiyah IAI Nasional Laa Roiba Bogor berharap mahasiswa tidak hanya memiliki pemahaman akademik mengenai konsep kesetaraan gender, tetapi juga mampu mengembangkan sikap empati, berpikir kritis terhadap representasi media, serta menginternalisasi nilai-nilai keadilan dalam kehidupan bermasyarakat maupun dalam praktik pendidikan.

FGD Kesadaran Gender ini menjadi bagian dari komitmen Fakultas Tarbiyah dalam menghadirkan proses pembelajaran yang responsif terhadap isu-isu kemanusiaan dan sosial. Dengan memanfaatkan media sebagai sarana edukasi, mahasiswa didorong untuk menjadi agen perubahan yang mampu membangun budaya akademik yang inklusif, menghargai keberagaman, serta menjunjung tinggi nilai keadilan dan kesetaraan gender.

BAGIKAN :